Ilmu Konstruksi: Hubungan Aanwijzing dan Analisa Biaya
Kelebihan seorang tenaga ahli yang memiliki sense of engineer sangat menentukan laba/rugi suatu proyek disaat dia melaksanakan aanwijzing.Dengan rasa sense of engineer-nya dia sudah dapat memperkirakan metode yang akan dilaksanakan, perubahan volume yang akan terjadi berdasarkan gambar desain dan kondisi pekerjaan. Karena perubahan desain pekerjaan bisa saja terjadi karena berbagai faktor, diantaranya :
- Kondisi pekerjaan sudah tidak sesuai dengan desain disebabkan bencana alam, sehingga akan terjadi perubahan desain dan tentunya perubahan volume mengikutinya.
- Gambar desain tidak dapat dilaksanakan karena metode pelaksanaan di lokasi tidak dapat dikerjakan sesuai desain
- Perubahan desain karena tidak mengikuti standart aturan yang baku, sehingga dilakukan reviewdesain
Dari berbagai macam instrumen pekerjaan yang akan dikerjakan, khususnya oleh kontraktor makaengineer akan memberikan ouput-output baik itu metode kerja, analisa biaya proyek, hingga menjadi penawaran (tender). Analisa Biaya
Disinilah peranan sense of engineersebagai penentu proyeksi pekerjaan terkait saat Aanwijzing. Sebagai contoh :
Disaat melaksanakan Aanwijzinguntuk pekerjaan jalan, engineerdengan sense-nya melihat adanya kerancuan gambar desain. Bahwa untuk dilaksanakan seperti desain jalan akan menjadi sangat curam. sehingga sense-nya berkata "pasti volume pekerjaan timbunan yang tertera di dokumen penawaran akan bertambah, sedangkan volume pekerjaan galian berkurang"
Tentunya sense itu tidak akan berhenti disitu, dia akan membuat analisa biaya yang memastikan pekerjaan timbunan mendapat margin (profit) yang besar dan pelaksanaan pekerjaan galian tidak sampai rugi.
Mari kita analisa sebagai berikut :
Kontraktor A (tanpa sense of engineer) menawarkan Pekerjaan Jalan tersebut dengan kalkulasi :
-Pekerjaan galian volume untuk 1000 m3 (volume penawaran)
seharga Rp. 27.500,-
- Pekerjaan Timbunan dipadatkan untuk volume 500 m3 (volume penawaran)
seharga Rp. 50.000,-
sehingga total harga penawaran sebesar = (1000 x 27.500) + (500 x 50.000) = Rp. 52.500.000,-
Kontraktor B (dengan sense of engineer) menawarkan pekerjaan Jalan tersebut dengan kalkulasi :
-Pekerjaan galian volume untuk 1000 m3 (volume penawaran)
seharga Rp. 22.500,-
- Pekerjaan Timbunan dipadatkan untuk volume 500 m3 (volume penawaran)
seharga Rp. 55.000,-
sehingga total harga penawaran sebesar = (1000 x 22.500) + (500 x 55.000) = Rp. 50.000.000,-
Setelah pembukaan penawaran dinyatakan kontraktor B sebagai pemenang tender dengan penawaran 50 juta. Tentunya akan menjadi pertanyaan besar, dimana letak keuntungan Kontraktor B? bukankah penawaran lebih kecil.
Setelah pekerjaan berlangsung, dan gambar terjadi review desain maka diikuti dengan perubahan volume, sehingga yang tadinya volume pekerjaan galian 1000 m3 menjadi 500 m3. Begitu pula pekerjaan timbunan semula 500 m3 menjadi 1000 m3.
Analisanya :
Bila tak ada review desain
Misal Harga dasar pekerjaan galian Rp. 20.000 dan harga timbunan Rp. 40.000
Laba kontraktor A adalah ((27.500-20.000) x 1000) + ((50.000-40.000) x 500) = Rp. 12.500.000,-
Laba kontraktor B adalah ((22.500-20.000) x 1000) + ((55.000-40.000) x 500) = Rp. 10.000.000,-
Bila terjadi review desain
Laba kontraktor A adalah ((27.500-20.000) x 500) + ((50.000-40.000) x 1000) = Rp. 13.750.000,-
Laba kontraktor B adalah ((22.500-20.000) x 500) + ((55.000-40.000) x 1000) = Rp. 16.250.000,-
Dari gambaran tersebut dapat dinilai bahwa sense of engineer sangat berperan dalam proyeksi pekerjaan kedepan. Seorang engineer memang wajib memiliki kemampuan teknis untuk menghadapi semua kendala, tapi dengan seiring bertambah pengalaman dan kemampuan, sense of engineer akan berkembang. Dari contoh diatas ada 3 hal yang bisa menjadi catatan.