Minggu, 25 Oktober 2015

Sub Soil Improvement.

Perbaikan Tanah untuk Pondasi Telapak Dengan Metode Sub Soil Improvement

Kelebihan dan Kekurangan dari Pondasi Telapak :

Kelebihan :

  • Pekerjaan dapat dilaksanakan sendiri oleh kontraktor.
  • Dasar/tapak pondasi langsung duduk di atas tanah keras.

Kekurangan/kerugian :

  • Diperlukan galian yang cukup dalam (s/d 4 meter).
  • Karena jarak antar pondasi cukup dekat, dan kondisi tanah yang labil, sehingga keseluruhan tapak gedung harus digali secara terbuka.
  • Faktor kesulitan besar karena bekerja di bawah muka air tanah.
  • Mutu beton kurang dapat terkontrol.
  • Banyak dibutuhkan peralatan berat.
  • Banyak menggunakan pompa (data awal M.A.T pada elevasi –1.5 dari muka tanah asli) sehingga pekerjaan lokasi kerja akan becek dan kotor.
  • Banyak tanah yang akan ditimbun kembali sehingga kepadatannya kurang baik.
  • Waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama.
  • Biaya pelaksanaan akan lebih sulit diprediksi dan dikontrol.


Dasar Pertimbangan Usulan Perubahan Pondasi 

  • Mengingat lebih banyaknya kerugian dari pada keuntungan, maka dirasa perlu untuk melakukan perubahan design untuk pekerjaan pondasi tersebut
  • Selain itu pertimbangan lain yang perlu juga untuk diperhitungkan adalah kondisi keamanan yang kurang kondusif sehingga sulit untuk memobilisasi peralatan berat masuk ke lokasi.
  • Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka dirasa perlu untuk mengusulkan perubahan pondasi dengan jenis pondasi lain atau dengan menaikkan elevasi pondasi menjadi diatas permukaan air tanah. Langkah awal yang diambil adalah melakukan pengujian tanah (sondir dan boring). Dari hasil rata-rata 8 (delapan) titik sondir didapati lapisan tanah keras hanya berupa lensa, yakni tanah keras dengan kekuatan dukung  40 kg/cm2 hanya pada kedalaman 3.5 sd. 6 meter seperti tergambar sbb. :

 
Sampai dengan kedalaman 30m dari muka tanah asli kondisi tanah masih belum menemui tanah keras.
 

 

Perubahan Pondasi dengan cara Menaikkan Elevasi Pondasi Sampai di atas Permukaan Air Tanah yakni pada Elevasi + 2.050

 
Dari hasil pengujian tanah yang dilakukan timbul permasalahan baru, dimana penggunaan tiang pancang tidak effisien dan memerlukan biaya yang cukup besar. Cara yang paling memungkinkan adalah dengan menaikkan elevasipodasi telapak untuk itu perlu dilakukan perbaikan tanah dasar sehingga terbentuk lensa baru yang mempertebal lensa kekuatan tanah yang telah ada dengan cara perbaikan kekuatan tanah dasar.
 
Metode yang diusulkan adalah dengan sistim perbaikan tanah (Sub Soil Improvement) yakni perbaikan tanah dengan menggunakan bahan semen yang dicampur langsung dengan tanah sehingga terbentuk lapisan keras (Soil Cement) yang mempunyai kekuatan yang cukup untuk medukung pondasi di atasnya.
 
Mengenai komposisi semen, air dan kedalaman soil cement dilakukan beberapa percobaan yang melibatkan laboratorium teknik beton dan Laboratorium mekanika tanah, sehingga diperoleh data:
 
  • Setiap 1 m3 tanah diperlukan 130 kg semen Type I
  • Ketebalan soil mix pada saat pengadukan 70 cm.
  • Pengadukan dilakukan dalam dua tahap pada 35 cm dan 70 cm
  • Kadar air tanah jenuh namun tidak ada air yang keluar dari tanah
  • Pengadukan harus rata dan dipadatkan
  • Perlu dilakukan pengujian percobaan langsung di lokasi kemudian dilakukan  pengujian hasil setelah umur 7 hari dan 14 hari

Dasar Pertimbangan Pemilihan Metode Perbaikan Tanah Dasar dengan cara Sub Soil Improvement. 

Dari penjelasan di atas jelas bahwa dasar dari pemilihan metode tersebut di atas adalah karena alternatif lainnya kurang memadai dan tentunya waktu pelaksanaan dan biaya juga menjadi factor penentu. Dalam tabel berikut dapat dilihat perbandingan / efisiensi yang didapat dari pemilihan metode tersebut.


Data Teknis Subsoil Improvement


Setiap 1 m3 tanah dicampur dengan 130 kg PC type I dengan kadar air tanah jenuh air namun tidak sampai ada air yang keluar. System pencampuran dilakukan secara langsung dengan menaburkan semen tersebut secara merata dan dibantu pengadukkannya dengan excavator sampai pada dalaman 70 cm dibagi dalam 2 tahap / lapis, dimana tiap-tiap lapis mempunyai ketebalan 35 cm dan dibuat setempat yakni pada lokasi masing-masing pondasi. Dimensi dari lapisan sub soil improvement tersbut sesuai dengan dimensi dari masing-masing pondasi telapak ditambah 30 cm keliling. Kekuatan tanah setelah perbaikan adalah 55 kg/cm2.

Bahan dan Alat yang diperlukan


Bahan   :  Semen Portland type 1
Alat      :  Excavator

Metode Pelaksanaan

Excavator melakukan galian tanah secara merata sd. Elevasi. +2.400 (elevasi di atas muka air tanah) sampai seluruh tapak bangunan tergali merata dan tanah di tempatkan pada Stock pile untuk nantinya digunakan kembali.


Semen disiapkan pada lokasi lahan yang akan dicampur (Soil cement) dalam jumlah yang cukup. Kemudian excavator menggali sampai kedalaman 35 cm turun dari elevasi galian yang pertama (stock tanah diletakkan di sampingnya) kemudian pada tanah tersebut ditaburkan semen sebanyak 45.5 kg tiap 1 m2, diaduk dan diratakan dengan excavator kemudian di padatkan.
Tahap kedua tanah yang distock disamping dimasukkan kembali ke lokasi pengadukan (untuk lapis 35 cm kedua) kemudian ditaburkan semen dengan jumlah yang sama seperti lapis pertama, aduk, ratakan dan padatkan.

Untuk menjaga kondisi air tanah, pada sisi samping pondasi perlu dibuatkan sampit dengan kedalaman tertentu sehingga air kelebihan (yang keluar dari tanah) dapat dibuang keluar lokasi.

Untuk menjaga mutu dari sub soil improvement, maka perlu dilakukan test dan dilakukan setelah umur adukan mencapai 7 hari, pengujian meliputi pemukulan dengan menggunakan besi beton dia 19 mm dan dipukul dengan palu 5 kg, pukulan dilakukan 5 (lima) kali dan dicatat penurunan besi beton tersebut sehingga dapat diketahui kekuatannya. Adapun model pengujian lainnya adalah dengan mengambil sample menggunakan alat core drill, dimana hasilnya di uji di laboratorium dengan test tekan seperti test beton pada umumnya.
Setelah pekerjaan Sub Soil Improvement, dipasang lantai kerja ketebalan 5 cm, selanjutnya pemasangan bekisting dan pembesian untuk kemudian dicor sampai seluruh pekerjaan pondasi selesai.
Pekerjaan selanjutnya adalah penimbunan tanah, Tie Beam dan plat beton, kolom dan seterusnya.
Dari segi teknis dapat dilihat (estimasi) grafik daya dukung tanah stelah dilakukan perbaikan Sub Soil Improvement sebagai berikut.



Pelaksanaan Penggalian untuk kemudian dilakukan sub soil improvement dengan soil cement


Sample soil  cement yang diambil dan telah dilakukan pengujian laboratorium dengan kekuatan rata-rata 55 kg/cm2

Pengambilan Sampel Core Test untuk pengujian tanah setelah dilakukan sub soil improvement

Pembuatan mal untuk lantai kerja diatas tanah yang telah di soil cement terlihat bersih dan bebas air tanah

Pelaksanaan Pekerjaan pembesian diatas lantai kerja

Pekerjaan bekisting dan pengecoran sebagian pondasi telah selesai dicor (tampak pada latar belakang)

Hubungan Aanwijzing dan Analisa Biaya

Ilmu Konstruksi: Hubungan Aanwijzing dan Analisa Biaya

Kelebihan seorang tenaga ahli yang memiliki sense of engineer sangat menentukan laba/rugi suatu proyek disaat dia melaksanakan aanwijzing.Dengan rasa sense of engineer-nya dia sudah dapat memperkirakan metode yang akan dilaksanakan, perubahan volume yang akan terjadi berdasarkan gambar desain dan kondisi pekerjaan. Karena perubahan desain pekerjaan bisa saja terjadi karena berbagai faktor, diantaranya :
  1. Kondisi pekerjaan sudah tidak sesuai dengan desain disebabkan bencana alam, sehingga akan terjadi perubahan desain dan tentunya perubahan volume mengikutinya.
  2. Gambar desain tidak dapat dilaksanakan karena metode pelaksanaan di lokasi tidak dapat dikerjakan sesuai desain
  3. Perubahan desain karena tidak mengikuti standart aturan yang baku, sehingga dilakukan reviewdesain
Dari berbagai macam instrumen pekerjaan yang akan dikerjakan, khususnya oleh kontraktor makaengineer akan memberikan ouput-output baik itu metode kerja, analisa biaya proyek, hingga menjadi penawaran (tender).

Analisa Biaya

Disinilah peranan sense of engineersebagai penentu proyeksi pekerjaan terkait saat Aanwijzing. Sebagai contoh : 

Disaat melaksanakan Aanwijzinguntuk pekerjaan jalan, engineerdengan sense-nya melihat adanya kerancuan gambar desain. Bahwa untuk dilaksanakan seperti desain jalan akan menjadi sangat curam. sehingga sense-nya berkata "pasti volume pekerjaan timbunan yang tertera di dokumen penawaran akan bertambah, sedangkan volume pekerjaan galian berkurang" 

Tentunya sense itu tidak akan berhenti disitu, dia akan membuat analisa biaya yang memastikan pekerjaan timbunan mendapat margin (profit) yang besar dan pelaksanaan pekerjaan galian tidak sampai rugi. 

Mari kita analisa sebagai berikut :

Kontraktor A (tanpa sense of engineer) menawarkan Pekerjaan Jalan tersebut dengan kalkulasi :

-Pekerjaan galian volume untuk 1000 m3 (volume penawaran)

seharga Rp. 27.500,- 

- Pekerjaan Timbunan dipadatkan untuk volume 500 m3 (volume penawaran)

seharga Rp. 50.000,-

sehingga total harga penawaran sebesar = (1000 x 27.500) + (500 x 50.000) = Rp. 52.500.000,-

Kontraktor B (dengan sense of engineer) menawarkan pekerjaan Jalan tersebut dengan kalkulasi :

-Pekerjaan galian volume untuk 1000 m3 (volume penawaran)

seharga Rp. 22.500,- 

- Pekerjaan Timbunan dipadatkan untuk volume 500 m3 (volume penawaran)

seharga Rp. 55.000,-

sehingga total harga penawaran sebesar = (1000 x 22.500) + (500 x 55.000) = Rp. 50.000.000,-

Setelah pembukaan penawaran dinyatakan kontraktor B sebagai pemenang tender dengan penawaran 50 juta. Tentunya akan menjadi pertanyaan besar, dimana letak keuntungan Kontraktor B? bukankah penawaran lebih kecil.




Setelah pekerjaan berlangsung, dan gambar terjadi review desain maka diikuti dengan perubahan volume, sehingga yang tadinya volume pekerjaan galian 1000 m3 menjadi 500 m3. Begitu pula pekerjaan timbunan semula 500 m3 menjadi 1000 m3. 

Analisanya :

Bila tak ada review desain 

Misal Harga dasar pekerjaan galian Rp. 20.000 dan harga timbunan Rp. 40.000

Laba kontraktor A adalah ((27.500-20.000) x 1000) + ((50.000-40.000) x 500) = Rp. 12.500.000,-

Laba kontraktor B adalah ((22.500-20.000) x 1000) + ((55.000-40.000) x 500) = Rp. 10.000.000,-

Bila terjadi review desain

Laba kontraktor A adalah ((27.500-20.000) x 500) + ((50.000-40.000) x 1000) = Rp. 13.750.000,-

Laba kontraktor B adalah ((22.500-20.000) x 500) + ((55.000-40.000) x 1000) = Rp. 16.250.000,-

Dari gambaran tersebut dapat dinilai bahwa sense of engineer sangat berperan dalam proyeksi pekerjaan kedepan. Seorang engineer memang wajib memiliki kemampuan teknis untuk menghadapi semua kendala, tapi dengan seiring bertambah pengalaman dan  kemampuan, sense of engineer akan berkembang. Dari contoh diatas ada 3 hal yang bisa menjadi catatan.